Memilih Sistem Operasi Baru, Kami Melirik FreeBSD dan OS Alternatif
Kami sedang mencari alternatif sistem operasi harian pengganti Linux Mint dan mulai melirik varian BSD seperti FreeBSD, OpenBSD, hingga NetBSD.
Ilustrasi logo dan sistem operasi FreeBSD, OpenBSD, dan NetBSD untuk alternatif sistem operasi harian
Alasan Kami Ingin Pindah dari Linux Mint
Keputusan Linux Mint untuk mengubah siklus rilis dari enam bulan menjadi satu tahun sekali sebenarnya bertujuan bagus. Mereka ingin memberikan kestabilan yang lebih matang pada setiap versinya. Namun, proses pembaruan besar dari versi sebelumnya menyisakan sedikit trauma bagi kami.
Saat bermigrasi dari versi 21 ke 22, kami terpaksa mencadangkan semua data penting dan melakukan instalasi ulang secara bersih. Proses ini memakan waktu jauh lebih lama dari perkiraan kami sebelumnya. Beruntung, rilis besar berikutnya baru akan hadir di akhir tahun 2026 sehingga kami punya banyak waktu untuk mencari opsi lain.
Kami tentu tidak ingin mengulang proses instalasi yang merepotkan tersebut di masa depan. Oleh karena itu, kami mulai membuka mata untuk melihat Sistem Operasi alternatif di luar sana yang lebih ramah pengguna jangka panjang.
Dilema CachyOS dan Rolling Release
Kami sempat melirik CachyOS yang merupakan turunan Arch Linux dengan tampilan KDE Plasma yang sangat menawan. Kecepatan dan performanya sungguh luar biasa, bahkan dilengkapi dengan shell fish secara bawaan. Sistem Operasi ini sempat masuk ke dalam daftar teratas calon pengganti Linux Mint di komputer kami.
Namun, sifat rolling release yang diwarisi dari Arch membuat kami sedikit ragu untuk menggunakannya setiap hari. Baru-baru ini kami memperbarui sistem di mesin virtual dan menemukan beberapa paket yang membutuhkan intervensi manual agar tidak merusak sistem.
Meskipun kendala tersebut tidak langsung mengganggu aktivitas kami, adanya potensi sistem rusak saat pembaruan rutin terasa melelahkan. Kami membutuhkan sistem yang stabil tanpa perlu sering melakukan perbaikan manual.
Rencana Pengujian FreeBSD dan Varian BSD Lainnya
Langkah selanjutnya yang akan kami lakukan adalah menguji seberapa mudah memasang KDE Plasma di FreeBSD. Kami juga ingin menguji apakah perangkat pengembangan ESP-IDF milik Espressif bisa berjalan lancar untuk memprogram mikrokontroler ESP32. Jika eksperimen ini berhasil, kami bisa memindahkan seluruh lingkungan kerja pengembangan kami dari Linux ke FreeBSD.
Jika kombinasi FreeBSD dan KDE ini memuaskan, kami mungkin tidak perlu melirik NetBSD atau OpenBSD lagi. Di sisi lain, kami juga mendengar kabar tentang ramainya kembali pembahasan mengenai Slackware yang legendaris.
Namun, kami memutuskan untuk tidak kembali ke Slackware karena kami sudah melewatinya sejak era 1990-an. Di usia kami yang kini menyentuh 72 tahun, kami hanya ingin mencari pelabuhan terakhir yang tenang, stabil, dan minim masalah tanpa perlu terus mengejar Sistem Operasi yang sempurna.