Review Singkat Desktop OS Ringan, Linux di Mac Sampai Ubuntu di Pi
Kami membagikan ulasan santai seputar performa CachyOS di MacBook Pro, alasan migrasi total ke Linux, dan kehebatan Ubuntu 26.04 LTS di Raspberry Pi 5.
Tampilan antarmuka desktop operating system ringan dengan wallpaper pemandangan alam sub arctic yang minimalis
CachyOS Jadi Jawaban VM Paling Efisien
Kami tidak punya banyak keluhan saat menjalankan CachyOS belakangan ini. Sistem operasi ini kami pasang sebagai mesin virtual atau VM di MacBook Pro 16 inci rilisan 2019 berbasis Intel. Dari total 10 VM yang kami instal di Mac, CachyOS terbukti menjadi OS yang paling efisien.
OS ini berjalan jauh lebih cepat dan mengonsumsi daya baterai yang jauh lebih sedikit daripada kompetitornya. Kami bahkan bisa membiarkannya menyala berhari-hari sambil berganti fokus ke macOS untuk menyelesaikan pekerjaan. Penulisnya sempat mengeluh, "Pihak pengembang mengubah wallpaper bawaan yang kurang oke pada versi terbaru."
Kami akhirnya mengakali masalah visual tersebut dengan mengkloning repositori dari GitHub resmi milik KDE Plasma. Kami memilih tema Sub Arctic dari koleksi tersebut untuk mempercantik tampilan desktop. Sekarang, area kerja digital kami terlihat jauh lebih segar dan minimalis.
Selamat Tinggal Drama Pembaruan Windows
Kami sempat merasa mati rasa dengan segala drama yang terjadi pada sistem operasi Windows. Saat Windows 10 muncul, kami langsung saja menimpanya di atas instalasi Windows 8 lama yang sudah mulai rusak. Kami awalnya percaya pada janji manis Microsoft bahwa Windows 10 adalah versi final yang hanya akan menerima pembaruan rutin.
Namun kenyataan pahit harus kami terima saat Microsoft merilis versi terbarunya ke publik. Pihak Microsoft memberi tahu, "Komputer lama Anda tidak bisa memperbarui ke Windows 11 dan Anda harus membeli komputer baru." Pernyataan ini tentu saja membuat kami kecewa karena perangkat lama kami sebenarnya masih sangat layak pakai.
Kami langsung mengambil langkah tegas untuk menyelamatkan semua komputer rumah kami dari tumpukan sampah elektronik. Kami mengganti Windows 10 pada semua komputer rumah kami dengan distro Linux yang jauh lebih bersahabat. Langkah ini tidak hanya memperpanjang umur perangkat, tetapi juga membebaskan kami dari sistem menu Windows 11 yang membosankan.
Ubuntu Kembali Berjaya di Raspberry Pi 5
Kami memutuskan untuk kembali menggunakan Ubuntu pada komputer mini Raspberry Pi 5 kesayangan kami. Sebelumnya kami sempat memakai Raspberry Pi OS versi terbaru untuk menangani proyek harian. Sayangnya, OS tersebut masih tertahan di kernel Linux 6.18 saat dunia luar sudah bergerak maju mengadopsi kernel versi 7.
Kami langsung menukar SSD lama yang berisi Ubuntu 25.10 untuk menggantikan posisi Raspberry Pi OS. Kami melakukan pembaruan sistem secara menyeluruh, lalu meningkatkan versinya dari 25.10 menuju Ubuntu 26.04 LTS. Kami bisa katakan dengan jujur bahwa Ubuntu 26.04 berjalan jauh lebih baik daripada versi sebelumnya di Raspberry Pi 5.
Pelajaran berharga yang kami petik adalah jangan pernah menginstal versi selain Long Term Support atau LTS. Artinya, kami akan setia menggunakan versi 26.04 ini selama dua tahun ke depan hingga versi 28.04 resmi meluncur. Oh ya, jika Anda ingin memunculkan info sistem fastfetch tanpa logo ASCII yang mengganggu, gunakan saja perintah khusus.
Kami menyarankan Anda menjalankan perintah "fastfetch --logo none" di dalam terminal untuk hasil yang lebih bersih. Terakhir, kami juga menemukan aplikasi berbasis bahasa Go bernama Bold Brew untuk mengelola tools di macOS dengan rapi. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda tertarik mencoba salah satu OS ringan ini di perangkat Anda?