Konten AI slop kini membanjiri internet. Mulai dari video kucing lompat-lompat di trampolin yang melanggar hukum fisika, gambar mengkilap plastik dengan jari bengkok, hingga artikel ringkasan berita yang penuh fakta ngawur. Banyak orang mulai kesal karena feed media sosial mereka dipenuhi konten asal-asalan ini.
Rosanna Pansino, kreator baking dengan lebih dari 21 juta pengikut di YouTube, Instagram, dan TikTok, sudah muak dengan tren slop makanan. Ia pun membuat seri video khusus: merekreasi konten AI slop secara nyata menggunakan skill baking-nya. Tujuannya sederhana: tunjukkan betapa sulit dan detailnya kerja manusia dibandingkan sekadar ketik prompt lalu generate.
Apa Sebenarnya AI Slop Itu?
AI slop adalah konten hasil kecerdasan buatan yang dibuat asal-asalan, minim nilai tambah, dan sering kali penuh kesalahan. Bentuknya bermacam-macam: video pendek yang melanggar hukum fisika, gambar terlihat mengkilap seperti plastik dengan anatomi salah, hingga teks ringkasan berita yang mengarang sumber atau fakta.
Slop muncul karena AI membuat konten jadi sangat cepat, murah, dan mudah diproduksi dalam jumlah besar. OpenAI Sora, Google Nano Banana, Meta AI, hingga Grok dari xAI bisa menghasilkan video, gambar, dan teks hanya dalam hitungan detik. Produsen slop memanfaatkan ini untuk menarik engagement dan monetisasi iklan.
Menurut survei CNET terbaru, 94% pengguna media sosial di Amerika yakin sering melihat konten AI saat scrolling. Sayangnya, hanya 11% yang merasa konten itu bermanfaat atau menghibur. Sisanya menganggapnya mengganggu atau bahkan menyesakkan feed mereka.
Kreator Mulai Melawan dengan Cara Kreatif
Rosanna Pansino memilih cara unik untuk melawan slop. Ia merekreasi video AI slop makanan secara manual. Contohnya, tumpukan gummy Peach Rings yang dioles di roti. Video AI terlihat mudah, tapi Rosanna harus membuat butter rasa peach, warnai kuning-orange pastel, cetak bentuk cincin pakai cetakan silikon, lalu rekatkan dengan butter bening. Setelah dibekukan dan dicelup gula asam, hasilnya sempurna menyerupai permen asli.
Video Rosanna langsung viral karena menunjukkan kerja keras manusia yang jauh lebih detail dibandingkan sekadar prompt AI. Pengikutnya mendukung penuh karena mereka juga kesal dengan slop yang membanjiri feed. "Internet dibanjiri AI slop, saya ingin melawan dengan cara menyenangkan," kata Rosanna.
Tak hanya Rosanna, kreator lain seperti Jeremy Carrasco (@showtoolsai) juga aktif. Dengan latar belakang teknis video producer, ia menganalisis video viral dan menunjukkan tanda-tanda AI seperti lompatan frame aneh, pelanggaran kontinuitas, dan efek cahaya yang tidak wajar. Video edukasinya membantu ratusan ribu pengikut mengenali slop dengan lebih mudah.
Platform Mulai Berupaya, Tapi Masih Kurang
Platform besar mulai sadar masalah slop. LinkedIn menerapkan verifikasi identitas untuk kurangi akun palsu dan AI. arXiv (database riset) memperketat aturan agar paper AI slop tidak masuk. Instagram dan YouTube mulai kurangi rekomendasi konten repetitif atau low-quality di algoritma mereka.
Namun banyak yang menilai upaya ini masih setengah hati. Platform besar seperti Meta, Google, dan X juga mengembangkan AI sendiri — ada konflik kepentingan. Mereka ingin AI mereka terlihat populer dan berguna, sehingga sulit mengharapkan mereka benar-benar membatasi slop secara ketat.
Beberapa platform alternatif mulai muncul. DiVine, revival dari Vine, dirancang khusus bebas AI slop. Mereka fokus pada konten manusia asli dan menggunakan verifikasi proof mode dari The Guardian Project untuk memastikan konten bukan hasil AI. Meski masih kecil, DiVine jadi harapan baru bagi yang ingin kembali ke internet "manusiawi".
Deepfake dan Slop Politik Semakin Berbahaya
AI slop tidak hanya mengganggu, tapi juga berbahaya di ranah politik. Istilah "slopaganda" muncul untuk konten AI yang sengaja dibuat memengaruhi opini publik. Gambar AI Trump naik jet tempur, kartun Franklin Turtle pegang senjata, hingga deepfake video dan foto sudah beredar luas.
Studi Stanford menemukan pesan politik buatan AI sama persuasifnya dengan yang dibuat manusia. 94% responden tidak bisa membedakan. Ini membuka peluang besar bagi aktor jahat untuk menyebarkan misinformasi dengan efisien dan murah.
Deepfake juga jadi senjata utama. Grok dari xAI pernah digunakan untuk membuat jutaan gambar deepfake intim tanpa persetujuan, termasuk anak-anak. Hukum seperti Take It Down Act 2025 sudah ada, tapi penegakannya masih lemah dan platform punya masa tenggang hingga Mei 2026 untuk menyiapkan sistem penghapusan.
Upaya Teknologi dan Regulasi Melawan Slop
Watermarking dan labeling jadi senjata utama. C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity) berupaya standarisasi watermark untuk konten sintetis. Beberapa model AI sudah kompatibel, tapi tidak semua. Ini membuat verifikasi masih tidak konsisten.
Abe Davis dari Cornell University mengembangkan watermark berbasis cahaya (noise-coded illumination). Lampu khusus bisa menanamkan watermark ke lingkungan rekaman live. Semua kamera yang merekam akan otomatis dapat watermark itu, sulit dihapus, dan bisa deteksi manipulasi hingga tingkat piksel.
Di sisi regulasi, AS masih terpecah. Beberapa negara bagian seperti California dan Illinois punya aturan AI sendiri, tapi pemerintah federal di bawah Trump ingin kurangi regulasi agar AS "menang" di perlombaan AI global. Ini membuat upaya pengendalian slop jadi lebih lambat.
Masa Depan Internet: Kembali ke Manusiawi
Internet tidak akan pernah kembali seperti sebelum AI. Namun perjuangan melawan slop adalah perjuangan untuk mempertahankan sisi manusiawi: kreativitas asli, koneksi antarmanusia, dan kepercayaan pada apa yang kita lihat.
Kreator seperti Rosanna Pansino dan Jeremy Carrasco menunjukkan bahwa usaha manusia jauh lebih berharga daripada sekadar klik generate. Platform seperti DiVine membuktikan masih ada ruang untuk internet yang bebas slop. Regulasi dan teknologi watermarking mungkin lambat, tapi mereka sedang dibangun.
Internet yang penuh slop seperti lautan tercemar. Membersihkannya butuh usaha bersama. Jika tidak, kita berisiko masuk ke "dead internet" di mana AI berinteraksi dengan AI, dan manusia hanya jadi penonton. Perjuangan ini baru dimulai, dan banyak orang masih berusaha mengembalikan internet jadi tempat yang lebih manusiawi.